Mensyukuri Eforia Pendidikan Profesi Fisioterapi


Inilah dunia dan kita semua sekarang sedang ada di dunia , ini kalimat pembuka yang sebenarnya tidak penting dan tujuannya hanya mengingatkan , siapa tahu kita semua lupa.

Di dunia yang oleh Tuhan disebut sebagai fana dan permainan ,memungkinkan adanya fenomena yang bertolak belankang dan berlawanan , sesuatu yang dilenyapkan hari ini dicari dimasa yang akan datang, sesuatu yang jadi racun hari ini menjadi obat di masa depan bahkan sesuatu yang ditakuti mengancam di hari ini kemudian dicari dan dianggap menguntungkan . Dala m koneks dunia seperti ini para “wasis” di jawa mengingatkan kita dengan istilah “ojo nggumunan”.

Permenkes No 80 th 2013 tentang Ijin Praktik Fisioterapi adalah salah satu fenomena itu. Peraturan menteri yang digagas para “wasis” dalam bidang fisioterapi tersebut sangat visioner pada zaman itu. Waktu yang baru 4 tahun lalu bisa terasa jauh kebelakang dibanding dengan kemajuan ilmu dan profesi Fisioterapi di dunia saat tulisan ini dibuat.

Permenkes 80 dianggap sebagai ancaman yang menakutkan, perubahan fisioterapi pada level profesi diaggap imajiner dan orang orang yang memperjuangkannya adalah penghayal . Hari ini Alhamdulilah fenomena terbalik terjadi, permenkes 80 tak lagi menjadi ancaman dan sudah menjadi peluang.

Saya sesungguhnya kurang suka menggunakan kata “eforia” sebab dalam benak saya eforia berkonotasi kegembiraan berlebihan yang dilakukan oleh orang orang yang tak mengerti dan tak mau belajar mengerti. Misalnya setelah dalam bidang politik kata eforia lebih sering digunakan. Setelah tergulingnya orde baru maka masyarakat berbondong bondong bikin partai politik hingga muncullah puluhan partai politik bak jamur dimusim hujan. Dan hari ini puluhan partai itupun berguguran. Sebab pendiri partai itu tak paham apa yang mereka lakukan. Inilah makna eforia itu yang tidak saya sukai.

Maka antusisme sejawat fisioterapis melanjutkan pendidikan fisioterapi itu adalah bukan eforia - dan semoga bukan eforia, akan tetapi adalah “jihad” yaitu sebuah kesadaran hakiki untuk melakukan perbaikan diri berperang melawan “kejahilan” dengan sekuat tenaga “bi amwal wa anfus”. Sebuah kesadaran diri bahwa profesi fisioterapi ditutut semakin baik dalam melayani manusia hamba Tuhan yang mulia.

Teruntuk seluruh kolega yang melanjutkan pendidikan mari kita “bertakbir” memuliakan Tuhan bahwa perkembangan profesi ini adalah bagian dari skeario -Nya dalam memuliakan kita. Mensyukurinya menjadi wajib . Caranya dijalankan dengan “ihsan”.

Kata Fana saya gunakan sebagai penutup . Para ahli sufi menggunakan kata fana yang berarti lenyap, hancur dan hilangya (suatu keburukan) dan datangnya atau munculnya sifat “baqa“ kekekalan sifat-sifat terpuji. Maka pendidikan profesi adalah munculnya kebaikan. 

Cirebon, 3/8/2017: 20:25, ditulis oleh M.Ali Imron,M.Fis - Ketua Umum Ikatan Fisioterapi Indonesia


Wasis = orang tua yang bijak dan tinggi ilmunya
Ojo nggumunan = Jangan suka terpana dan terkagum
Eforia = rasa gembira yang berlebihan yang berujung pada keburukan
Jihad = usaha dengan segala upaya untuk kebaikan
Kejahilan = kebodohan
Bi amwal wa anfus = dengan harta dan jiwa
Bertakbir = Mengagungkan kebesaran Tuhan
Ihsan = Melakukan perbuatan seolah selalu di lihat Tuhan.

Posting Komentar

0 Komentar