Konferensi ICIPA 2018 Menjadi Rangkaian Perayaan Ulang Tahun Ikatan Fisioterapi Indonesia

Gambar ilustrasi international conference di BNDCC dari https://twitter.com/bndcc

Ada yang spesial dari temu ilmiah tahunan fisioterapi di tahun ini, acara yang diselenggarakan tanggal 14-16 Agustus 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center itu menjadi bagian dari perayaan hari jadi Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) yang ke-50. Tahun ini pula untuk pertama kalinya IFI mengadakan international conference, yaitu International Conference Indonesian Physiotherapy Association (ICIPA) .

Menggelar acara spesial tentu harus disertai dengan sesuatu yang istimewa pula. Hal ini diungkapkan Muhammad Irfan selaku Sekretaris Jenderal IFI dalam wawancaranya.

“Keistimewaan ICIPA tahun ini yaitu kami sedang menggiatkan pengembangan pendidikan, sehingga yang menjadi spesial yaitu baru kali ini semua ketua ikatan fisioterapis se-Asia bersedia untuk hadir di ICIPA. Biasanya dalam konferensi tidak semuanya hadir, tapi kali ini mereka sangat antusias untuk datang dalam rangka ulang tahun IFI,” papar Irfan.

Beberapa petinggi di bidang fisioterapi Asia yang hadir dalam ICIPA 2018 di antaranya  Prof. Suh-Fang Jeng, PT, selaku Chair of World Confederation for Physical Therapy – Asian Western Pacific Region; Michael Gabilo, PT, selaku President of PhilPTA, Filipina; Dr. Preecha Asawakosinchai, PT, selaku President of ThaiPT, Thailand; Kazuto Handa, PT, selaku President of JPTA, Jepang; Yew Su Fen selaku President of MPA, Malaysia; serta Tae-Sik Lee, PT, selaku President of KPTA, Korea Selatan. Keenam tokoh ini akan memberikan pemaparan seputar kondisi dan perkembangan fisioterapi baik di kawasan Asian Western Pacific, maupun di negaranya masing-masing.

Kehadiran para petinggi asosiasi fisioterapi mancanegara ini diharapkan Irfan mampu membantu pengembangan ilmi fisioterapi di Indonesia. Dituturkan Irfan, begitu banyak ilmu dari belahan dunia lainnya yang perlu dibagikan kepada para praktisi fisioterapi di Indonesia agar mampu mengejar ketertinggalan dari negara lain.

“Kami ingin menunjukkan bahwa secara prinsip memang nyata perkembangan fisioterapi di Indonesia perlu mengejar ketertinggalan, dari segi pendidikan, misalnya. Namun kami bisa menunjukkan bahwa IFI bisa menjadi penggerak utama di Asia,” ujar Irfan. “Mereka melihat bahwa perkembangan fisioterapi di Indonesia merupakan barometer di Asia yang berkembang. Kami sengaja membuat event besar agar mereka melihat dan bangga akan fisioterapis kami di dalam negeri.”

ICIPA 2018 menghadirkan tiga agenda utama, yakni konferensi, workshop, dan eksibisi. Ketiga rangkaian acara ini saling bersinergi dalam menyajikan wawasan dan teknologi terbaru seputar ilmu fisioterapi. Tidak hanya dari dalam negeri, ICIPA 2018 juga diharapkan mampu menarik perhatian para fisioterapis dari luar negeri agar hadir di acara ini.

Penulis  : Rerre Adisty
Editor    : Wahyu Physio

Posting Komentar

0 Komentar