Mengenal Paralimpik ; Dari Sebuah Metode Rehabilitasi Menjadi Turnamen Olehraga Akbar

Gambar : Lomba kursi roda paralimpik

Beberapa hari lagi, Asian Para Games (APG) 2018 akan resmi diselenggarakan di ibukota Indonesia, Jakarta. Ini adalah pesta olahraga bagi penderita cacat (difabel) se benua Asia.

APG kali ini adalah yang ketiga setelah sebelumnya berlangsung di Guongzhou, China dan Incheon, Korea Selatan. Diselenggarakan setelah Asian Games selesai, mengikuti pola turnamen tingkat dunia yang disebut Paralimpik yang berlangsung setelah Olimpiade selesai.

Kita patut berbangga karena Jakarta menjadi kota pertama di kawasan Asia Tenggara yang mengadakan APG. Asian Para Games 2018 akan diikuti lebih dari 2000 atlet dan mempertandingkan 18 cabang olahraga.

Paralimpik yaitu ajang olahraga bagi atlet penyandang cacat (difabel) sejarahnya dimulai pada tahun 1944. Saat Ludwig Guttmann seorang ahli saraf dari Jerman membuka praktik pengobatan bagi orang-orang yang mengalami kelumpuhan cedera sumsum tulang belakangnya (Spinal Cord Injury=SCI), di rumah sakit Stoke Mandeville.

Guttmann saat itu melihat banyak orang lumpuh akibat SCI yang mengalami kematian bahkan umur harapan hidupnya hanya dua tahun paska SCI. Akhirnya dia merasa bahwa tidak bias pasien SCI ditangani dengan pengobatan saja namun memerlukan fisioteraphy.

Untuk itu beliau memperkenalkan metode rehabilitasi baru bagi penderita SCI yaitu dengan olahraga. Dia meyakinkan pasiennya yang berkursi roda untuk bermain olahraga polo dan bola basket. Dia dibantu anaknya yang merupakan seorang fisioterapis yaitu Eva Loeffler.

Saat Olimpiade 1948 diselenggarakan di London, Guttmann memanfaatkan waktu upacara pembukaan dengan mempertunjukkan kompetisi panahan untuk atlet berkursi roda. Sejak itulah mulai bermunculan kompetisi bagi atlet difabel. Kompetisi pertama diselenggarakan dengan nama Stoke Mandeville Games, mengambil nama desa tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kompetisi berubah nama menjadi International Wheelchair and Amputee Sports World Games. Pada 1960, Paralimpik pertama diselenggarakan di Roma, diikuti 400 atlet difabel dari 23 negara. Sementara Paralimpik Musim Dingin pertama diselenggarakan di Swedia pada tahun 1976. Sejak 1988, ajang Paralimpik selalu diselenggarakan di kota yang sama dengan perhelatan Olimpiade.

Sekarang, Paralimpik telah jadi ajang olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade dan sering disebut Paralimpiade. Nama Paralimpiade diambil dari bahasa Yunani “para” (“di samping” atau “berdampingan”) dan dengan demikian merujuk kepada suatu kompetisi yang diselenggarakan paralel dengan Olimpiade.

Nama ini tidak ada hubungannya dengan paralisis atau paraplegia. Pertandingan Paralimpiade dilaksanakan tiga minggu setelah penutupan Olimpiade, di kota tuan rumah yang sama dan menggunakan fasilitas yang sama pula.

Kota-kota yang mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah Olimpiade harus mengikutsertakan Paralimpiade dalam penawaran mereka. Pada Paralimpiade Atlanta 1996 para atlet yang menderita cacat intelektual untuk pertama kalinya diizinkan ikut serta. Namun sempat dilarang lagi pada olimpiade 2004 & 2008 setelah terjadinya kecurangan pada Paralimpiade Sydney 2000.


Penulis: 
Ari Sudarsono,SST.Ft, SKM,MFis
Dosen Fisioterapi dan Pemerhati Kesehatan dan Olahraga

Posting Komentar

0 Komentar