Upayakan Perlindungan Hukum, Ikatan Fisioterapi Indonesia Temui LBH

M Ali Imron, MFis mengunjungi LBH Jakarta (2/8/18)

Adanya peraturan baru dari BPJS Kesehatan yang dinilai tidak sesuai dengan standar pelayanan medik, Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) menemui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Kamis (2/8). Pertemuan yang diwakili Ketua Umum IFI Ali Imron ini membahas persoalan perlindungan hukum bagi para fisioterapis di rumah sakit.

Imron memaparkan, peraturan yang dijalankan BPJS Kesehatan rentan menimbulkan pelanggaran hukum dikarenakan tidak sesuai dengan standar pelayanan fisioterapi. Tidak hanya permasalahan akibat peraturan baru yang dirilis Rabu (25/7), IFI juga berkonsultasi seputar peraturan BPJS Kesehatan sejak 2014 yang mengharuskan pasien melakukan perawatan di dokter rehab medik terlebih dahulu sebelum ditangani oleh fisioterapis. 

“Melalui pertemuan dengan LBH Jakarta, ada dua poin yang ingin kami sampaikan. Pertama, menerangkan tentang perbedaan profesi antara rehab medik dan fisioterapi, mulai dari perbedaan layanan, hingga dampak dari peraturan BPJS yang menyampuradukkan fisioterapi dan rehab medik,” tutur Imron.

Imron menambahkan, poin kedua dalam pertemuan itu yakni konsultasi mengenai langkah pencegahan jika fisioterapis mendapatkan intimidasi dari pihak yang tidak berkenan selama melakukan aksi mogok. “Untuk sejauh ini belum ada fisioterapis yang menerima surat peringatan, surat teguran, atau pemecatan. Sehingga konsultasi ini baru langkah preventif saja,” sambung Imron.

Sebelumnya, sejumlah fisioterapis dari berbagai rumah sakit di Indonesia melakukan aksi penghentian layanan bagi pasien BPJS Kesehatan. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 rumah sakit di Indonesia yang turut dalam aksi mogok untuk menentang aturan baru BPJS Kesehatan. Namun hanya layanan di rumah sakit saja yang dihentikan, karena IFI telah mempersiapkan sejumlah klinik fisioterapi mandiri bagi pasien BPJS Kesehatan untuk memperoleh layanan gratis. 

“Kalau kita tahan terus, mungkin jumlah rumah sakit yang melakukan mogok akan jauh lebih besar. Namun kami percaya, kami sebagai fisioterapis memiliki ikatan emosional dengan pasien, sehingga pengurus IFI menyatakan bahwa seluruh pelayanan harus dilanjutkan kembali,” tegas Imron.

Posting Komentar

0 Komentar