Kesehatan Mental, Fokus Utama World Physical Therapy Day 2018

Profesi fisioterapis tidak melulu berkutat dalam proses pemulihan fisik semata. Melalui perayaan World Physical Therapy Day (PT Day) 2018, World Confederation for Physical Therapy (WCPT) mencoba mengusung peran aktivitas fisik terhadap peningkatan kesehatan mental masyarakat di seluruh penjuru dunia.

PTDay2018 : Physical Therapy & Mental Health


Dalam PT Day tahun ini, “Physical Therapy and Mental Health” dipilih menjadi tema besar, sebagai bentuk kesinambungan kedua sisi kesehatan dan perannya dalam membentuk individu yang sehat, baik dari luar maupun dalam. Dalam kampanye PT Day tahun ini, WCPT mengusung tema kesehatan mental yang didorong oleh beberapa poin penting, di antaranya:
  1. Latihan fisik sebagai salah satu penanganan depresi.
  2. Peran fisioterapis yang menangani pasien dengan permasalahan kesehatan mental.
  3. Keuntungan menjalani aktivitas fisik dalam memproteksi diri dari gejala depresi.
  4. Hasil yang optimal akan didapat jika latihan fisik dibawakan oleh para profesional yang memiliki standar kualifikasi kesehatan, seperti fisioterapis.
  5. Orang-orang dengan masalah kesehatan mental cenderung lebih berisiko memiliki kualitas kesehatan fisik yang lebih buruk dibandingkan orang-orang yang kesehatan mentalnya terjaga dengan baik.

Poin-poin ini tidak hanya penting untuk mendorong kesehatan dan tingkat aktivitas fisik di masyarakat, tetapi juga membantu dalam menunjukkan bagaimana fisioterapi membantu masyarakat untuk tetap aktif bergerak lewat intervensi yang memaksimalkan kekuatan dan mobilitas. Melalui berbagai program latihan, fisioterapis membantu masyarakat dari berbagai lapisan usia untuk meningkatkan aktivitas tubuhnya.

Menurut data yang dihimpun WCPT, 1 dari 4 orang pernah mengalami kondisi gangguan kesehatan mental. Orang-orang dengan gangguan psikis juga memiliki kecenderungan hidup lebih pendek 10-20 tahun, dengan 70% angka kematian pada pasien gangguan psikis diakibatkan oleh buruknya kondisi kesehatan fisik. Dalam data ini juga disebutkan, 20% pengidap osteoarthritis memiliki depresi atau kecemasan, 33% pasien stroke mengalami depresi, sedangkan 38% penderita keringkihan juga memiliki depresi.

Peningkatan kesehatan mental juga tidak hanya dalam persoalan depresi atau kecemasan saja. Seperti diungkapkan Ali Imron selaku Ketua Umum Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), inactivity juga menjadi permasalahan besar saat ini. Kecanggihan teknologi dan peredaran gadget dengan segudang feature membuat banyak orang menjadi kecanduan, sehingga lebih asyik berkutat dengan gadget ketimbang melakukan kegiatan fisik, seperti berolahraga.

“Melihat era sekarang yang semakin digital, semakin canggih, hal ini berdampak pada kualitas aktivitas fisik dan membuat orang-orang menjadi malas bergerak. Efeknya terhadap kegiatan sehari-hari luar biasa, sehingga tahun ini kami melakukan kampanye yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak,” ungkap Imron dalam wawancaranya, Jumat (7/9).

Imron menambahkan, persoalan inactivity merupakan isu global yang dialami begitu banyak orang di berbagai penjuru dunia. “Tantangan utama kami saat ini ialah meningkatkan public awareness mengenai profesi fisioterapis yang peduli terhadap aktivitas fisik, terutama dampak inactivity terhadap kemampuan fisik seseorang yang begitu besar,” pungkas Imron.

Penulis: Rerre Adisty

Posting Komentar

0 Komentar