Mengenal Peran Fisioterapi dalam Pergelaran Asian Games 2018


Asian Games memang telah usai, tetapi kemeriahannya masih terus membahana. Kesuksesan ajang olahraga terbesar di Asia ini tidak lepas dari peran para petugas medis dalam menjaga kebugaran para atlet yang bertanding. Bagi seorang atlet, kebugaran otot dan tulang merupakan aset dalam menjalani profesinya agar mampu berkompetisi dan meraih pencapaian yang lebih tinggi. Untuk menjaganya, diperlukan pendampingan dari para pakar agar dapat memperoleh latihan fisik yang sesuai dengan kebutuhan.

Tim fisioterapis Asian Games

 Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) menurunkan sejumlah anggotanya untuk membantu menjaga kebugaran para atlet yang bertanding di Asian Games. Sekitar 80 tenaga fisioterapis diterjunkan untuk bertugas di Medical Center Poli Fisioterapi, NOC kontingen, serta beberapa lainnya mendampingi di arena cabang olahraga. Hal ini diungkapkan perwakilan dari IFI, Rendy Hardiansyah, dalam wawancaranya, Jumat (7/9).

“Fisioterapis yang bertugas di Asian Games datang dari berbagai daerah, seperti Makassar, Kendari, Medan, Pekanbaru, Palembang, Semarang, Solo, Kudus, Bandung, Depok, dan Jakarta. Khusus yang bertugas di Medical Center dan NOC kontingen, mereka bertugas setiap hari mulai dari pukul 07.00 sampai dengan 23.00,” papar Rendy.

Rendy menambahkan, sebelum bertugas di Asian Games para fisioterapis terlebih dahulu mengikuti pelatihan yang digelar oleh IFI dengan KONI dan Kemenpora. Pelatihan ini meliputi kelengkapan keahlian sebagai fisioterapis yang bergerak di bidang olahraga, kemampuan basic life support, elektroterapi, serta rehabilitasi cedera olahraga. Pelatihan yang digelar selama tiga hari ini sangat penting untuk menjaga agar para fisioterapis mampu menjalani tugasnya dengan optimal sesuai kebutuhan para atlet. Namun ada pula beberapa kontingen atlet yang memboyong tim fisioterapi sendiri dari negaranya. Bagi Rendy, hal ini mampu dimanfaatkan untuk saling berbagi informasi dan berdiskusi mengenai perkembangan fisioterapi di negara masing-masing. Rendy juga menuturkan, keterlibatan dalam Asian Games kali ini merupakan kesempatan yang begitu berharga, serta memberikan pengalaman unik tersendiri.

“Kami bertemu atlet dari berbagai negara yang belum tentu fasih berbahasa Inggris, sehingga kami menggunakan bahasa tubuh untuk proses penanganannya, “ ungkap Rendy. “Namun yang terpenting, atlet merasa senang dan nyaman dengan adanya fisioterapi di Medical Center ini, baik untuk mempercepat proses pemulihan cedera atlet, serta mereka pun merasakan sesuatu yang berkesan dengan kami.”

Menangani ribuan atlet dari 45 negara selama kurang lebih dua minggu tentu bukan perkara mudah. Terlebih dengan lokasi yang terbatas, menjadi tantangan tersendiri bagi tim fisioterapi Asian Games. “Secara keseluruhan, ini merupakan pengalaman kami yang pertama dan membahagiakan terlibat dalam kegiatan multi-event olahraga, apalagi yang terbesar se-Asia yang belum tentu dalam waktu dekat bisa terulang lagi,” tutur Rendy. “Walaupun tempat kurang besar dengan kapasitas atlet yang datang cukup banyak, tapi ini akan terus kami tindak lanjuti untuk setiap kegiatam multi-event olahraga, baik tingkat nasional ataupun internasional, karena peran fisioterapi dalam olahraga sangatlah penting.”

Keterlibatan fisioterapi dalam perhelatan Asian Games senada dengan tema perayaan World Phyisical Therapy Day (PT Day) yang jatuh pada 8 September. Tema “Physical Therapy and Mental Health” dipilih untuk menggambarkan betapa pentingnya peran tubuh yang aktif terhadap kesehatan mental. Melalui ajang olahraga Asian Games, diharapkan masyarakat menjadi terpacu untuk lebih aktif bergerak demi peningkatan kualitas kesehatan mental.

Penulis: Rerre Adisty

Posting Komentar

0 Komentar