Peran Fisioterapi Indonesia dalam Penanganan Korban Gempa Lombok

Tanah Lombok diguncang serangkaian gempa, korban berjatuhan dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban gempa Lombok per akhir Agustus lalu mencapai 515 orang meninggal dunia, 1.415 korban luka, 431.416 mengungsi, dan 73.843 rumah mengalami kerusakan. Kementerian Sosial telah menyiapkan dana sebesar Rp250 miliar dari anggaran tanggap darurat untuk biaya rehabilitasi pasca bencana. Tambahan anggaran sebesar Rp200 miliar pun digulirkan untuk perlindungan sosial.

PP IFI menyerahkan bantuan kepada korban gempa Lombok
Jika bantuan dalam bentuk materi telah dipersiapkan oleh pemerintah, lalu bagaimana dengan bantuan berupa perawatan kesehatan para korban gempa? Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) telah menurunkan sejumlah fisioterapis untuk memberikan layanan rehabilitasi terhadap para korban gempa. Fisioterapis yang diturunkan di lokasi bencana datang dari berbagai daerah di Indonesia yang kemudian disebarkan di sejumlah titik pengungsian.

“Dari Makassar ada puluhan fisioterapis, termasuk juga mahasiswa yang berpartisipasi membantu korban gempa. Dari Lombok sendiri ada sekitar 40 fisioterapis yang turut menangani,” ungkap Ali Imron selaku Ketua Umum IFI, Jumat (7/9).

Imron menambahkan, banyaknya tenaga fisioterapi yang dikerahkan di lokasi bencana dikarenakan proses rehabilitasi fisik korban gempa memerlukan penanganan jangka panjang. Itulah sebabnya, relawan fisioterapi di Lombok telah siap siaga dalam menangani korban sejak gempa pertama hingga saat ini. Proses penanganan pun akan terus berjalan dalam jangka panjang.

“Jumlah yang diturunkan cukup banyak, karena rehabilitasi fisik ini bersifat sustainable, tidak seperti misalnya penyakit diare yang sudah diberi obat dan asupan makanan kemudian akan sehat kembali. Cedera patah tulang memerlukan perawatan jangka panjang, sedangkan banyak sekali korban gempa yang mengalami patah tangan dan kaki, serta lumpuh,” papar Imron.

Penanganan rehabilitasi tidak hanya diberikan kepada orang dewasa saja, melainkan juga anak-anak. Khusus untuk penanganan korban anak, tim medis dibantu oleh relawan lain yang bertugas memberikan penghiburan dan edukasi kepada anak-anak untuk meredakan dampak bencana terhadap psikologis anak.

Mengenai pemulihan dari segi psikis, hal ini berkaitan dengan tema besar World Physical Therapy Day (PT Day) yang dirayakan setiap 8 September. Tahun ini, PT Day mengangkat tema “Physical Therapy and Mental Health”, yang menggambarkan peran penting kesehatan fisik terhadap kondisi mental. World Confederation for Physical Therapy (WCPT) meyakini bahwa latihan fisik merupakan salah satu faktor penting yang mampu meredakan persoalan psikis, seperti depresi. Hal ini juga berlaku bagi para korban gempa Lombok yang kehilangan orang-orang terkasih dan harta bendanya.

“Orang yang mengalami bencana alam tentu mengalami stres berat. Rekan-rekan kami yang bertugas di Lombok telah dilatih untuk menangani pasien yang terkena dampak bencana secara psikis. Kami mendorong para korban untuk melakukan aktivitas fisik yang mampu mengurangi dampak tekanan psikis saat gempa,” tutur Imron.

Penulis : Rerre Adisty

Posting Komentar

0 Komentar