Perjuangan

Ilustrasi : Panjat Pinang
Perjuangan,   mungkin adalah kata yg paling akrab  bagi kita bangsa Indonesia. Kata ini seperti memiliki daya magis yang luar biasa hingga bangsa ini menjadi merdeka, setelah 350 tahun, ya 350 tahun.

Barangkali kata perjuangan  sama magisnya dengan kata cinta. Kedua kata ini selalu membuka peluang dari yang tak mungkin menjadi mungkin. Sayangnya kedua kata ini selalu meminta tumbal ketika ingin dilaksanakan. Bukan saja meminta harta dan benda lebih dari itu kata perjuangan dan cinta sering meminta darah dan air mata. Bahkan ketika kita menyatakan cinta kepada sang khalik maka kita pun harus rela melepas yang fana.

Kata Perjuangan ini pula yang selalu kita dengungkan dalam menegakkan profesi kita. Bahkan kita menggabungkan antara cinta dan perjuangan. Dalam hal BPJS misalnya. BPJS yang  kita sebut melegalkan penjajahan atas profesi kita  seolah menjadi VOC yang menerapkan kerja rodi. BPJS  adalah musuh yang harus ditaklukkan.

Perjuangan dan Cinta memang tak semudah menuliskannya. Perjuangan meluruskan BPJS faktanya tak semudah menuliskan konsep, tatacara ,strategi yang kita yakini di dalam kertas. Tak pula semanis senyuman , ekspresi simpati dan bahkan kesamaan pola pikir para koneksi yang di sarankan , dianjurkan bahkan di paksakan.

Perjuangan meluruskan BPJS jelas tidak meminta darah dan air mata, namun dia tetap meminta tumbal kepada kita, kesabaran salah satunya.

Penulis selalu meyakini bahwa saatnya akan tiba entah 10 tahun ,20 tahun , 100 tahun ,350 tahun lagi atau bisa jadi bulan depan. Saat  dimana glory, liberty dan faternity tidak hanya diteriakkan tapi memang bisa dilakukan. Oleh karena itu , mari kita jangan berhenti menunggunakan daya magis kata perjuangan.

Namun begitu , patut kita sadari bahwa perjuangan sesungguhnya berawal dari pola pikir dan hati nurani ketika pasien sudah ada di depan kita. Selamat berjuang kawan !!

Bersambung

Posting Komentar

0 Komentar