Setelah 51 Tahun ; Lalu Apa ?


Sejawat Fisioterapi diseluruh Indonesia yang saya cintai,

Hari ini, tepat organisasi kita berusia 51 tahun, namun demikian profesi kita jauh lebih tua dari itu. Biar lebih nyaman kita menapaki masa depan maka yang paling pertama saya mengajak sejawat sekalian untuk selalu bersyukur. Minimal karena profesi kita masih hidup hingga hari ini. Ini penting kita sadari sebab di era Industri 4.0 bahkan 5.0 dengan munculnya artificial intelegent ada beberapa profesi dan pekerjaan yang akan gulung tikar dan menurun perannya, karena di gantikan oleh mesin.

Masih eksisnya (bahkan semakin eksis) profesi fisioterapi, juga menunjukkan kepada kita bahwa profesi fisioterapi mampu menjawab tantangan yang telah ditulis oleh Dr. Helen Hislop ,PT (1974) bahwa profesi fisioterapi akan mampu menjawab tiga tantangan utama yaitu : (1) tantangan dari medical science, (2) tantangan pemerintah dan (3) tantangan lembaga keuangan.

LALU APA ?
Guna meringkas perjalanan 51 tahun fisioterapi, berikut momentum dan milestone yang bisa jadi renungan kita bersama :

  • Tahun 1968 IFI dibentuk dengan nama IKAFI Tahun 1970 kongres pertama
  • Tahun 1991 menjadi Anggota WCPT
  • Tahun 2000 sekolah sarjana pertama
  • Tahun 2002 standar praktik pertama
  • Tahun 2008 standar pelayanan dan standar profesi pertama
  • Tahun 2016 pendidikan profesi fisioterapi pertama 
  • dan entah tahun berapa ada pendidikan Magister dan Doktor ...

Dari Perjalanan itu kita bisa melihat potret bagaimana visi ashabul awwalin fisioterapi Indonesia. Mulai dari Albert Siahaan, Suhardi, Soenarjo, Johanes Harjono, Heri Priatna dan Slamet Sumarno.

Kita bisa melihat hari ini, bahwa para pemimpin kita diatas adalah orang orang dengan visi besar dan konsistensi yang tak lekang walau tersengat matahari dan tersiram hujan. Maka kita saksikan hari ini fondasi fisioterapi  Indonesia cukup kuat

LALU APA?
Rasanya agak terlalu sempit jika masa depan fisioterapi indonesia harus dituliskan dalam bebera kalimat apalagi kata, namun begitu agar lebih memudahkan peta - meminjam istilah dari kartun serial Dora The Explorer, maka setidaknya ada beberapa titik yang  harus dirombak secara radikal dalam peta profesi fisioterapi di masa depan.

Pertama : Perombakan secara radikal kurikulum pendididkan profesi dengan lebih memperkuat clinical reasoning berbasis health technology assesment, clinical attachment minimal 3000 jam dan konten professional behaviour. Perombakan ini juga harus diikuti dengan standar akreditasi oleh WCPT.

Kedua : Penguatan secara radikal pelayanan fisioterapi di  rumah sakit melalui praktik berbasis bukti dan implementasi secara menyeluruh tanggung jawah profesi berbasis regulasi. Pada sisi ini yang dibutuhkan hanya keberanian, bukan lagi diskusi. Apakah itu Permenkes atau Undang-undang tak lagi bermakna bagi profesi  non medis dalam sistem kesehatan yang sangat feodal seperti di negara kita. Hanya keberanian yang kita butuhkan. MAN BEHIND THE GUN.

Ketiga : Bergerak ke masyarakat. Hanya dengan lebih bermanfaat bagi masyarakat profesi fisioterapi akan menemukan tempatnya yang pas dalam sistem masyarakat. Masyarakat adalah penentu utama apakah fisioterapi itu bermanfaat dan ada di masyarakat bukan dari tumpukan kertas seminar dan workshop yang menyundul langit.

Tagline # Pilih Fisioterapi  yang diikuti tindakan nyata dalam masyarakat adalah pintu keberhasilan bagi profesi fisioterapi untuk mendesak ketengah dan diperhitungkan dalam sistem kesehatan .

Mutu lah yang akan didatangi oleh kerumunan, bukan sebaliknya.

Ahirnya, dengan keyakinan penuh "masa itu akan tiba" masa keemasan bagi profesi fisioterapi tercinta pada paruh abad ke-2 , 2019 - 2068.


Klumpit Salatiga, 10 Juni 2019

Penulis:  Ali Imron (Ketua Umum IFI)

Posting Komentar

0 Komentar