2020 Gerak adalah Kebudayaan ; Exercise is Culture !

Selasa, 31 Desember 2019

2020 Gerak adalah Kebudayaan ; Exercise is Culture !

“ The World Confederation for Physical Therapy (WCPT) believes that with growing numbers of people leading increasingly sedentary lifesty...

The World Confederation for Physical Therapy (WCPT) believes that with growing numbers of people leading increasingly sedentary lifestyles and that physical inactivity is one of the leading risk factors for non-communicable diseases leading to morbidity, disability and mortality, it is imperative that effective strategies for exercise across the lifespan are implemented. As experts in movement and exercise and with a thorough knowledge of risk factors and pathology and their effects on all systems, physical therapists are the ideal professionals to promote, guide, prescribe and manage exercise activities and efforts” ________

Konfederasi Fisioterapi Dunia (WCPT) meyakini bahwa makin besar jumlah manusia bergaya hidup sedentary dan kurang bergerak merupakan faktor resiko utama munculnya penyakit kronis yang menyababkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Pada kondisi seperti ini, sesungguhnya excecise adalah strategi yang paling efektif untuk dilakukan sepanjang daur kehidupan. Sebagai profesi yang ahli dalam ilmu gerak dan latihan dengan seluruh pengetahuannya yang mendalam tentang faktor resiko, patologi dan pengearuhnya terhadap seluruh sistem, fisioterapis adalah profesi yang paling ideal untuk mempromosikan, mengarahkan dan meresepkan serta mengelola upaya dan kegiatan latihan.

Selamat pagi dan selamat tahun baru 2020 sejawat fisioterapis di seluruh Indonesia !
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Ilahi Robbi, karena berkat rahmat-Nya kita semua berhasil melewati tahun 2019 dengan baik dan selamat . Teriring doa semoga di tahun 2020 ini profesi kita semakin baik dalam berkontribusi kepada masyarakat luas. Tetap bergerak, bermanfaat dan bermartabat.

Di tahun 2019 lalu kita membangun semangat kita dengan mengusung tema “Pilih Fisioterapi”, semangat ini tetap akan kita teruskan di tahun ini sebagai ekspresi kita bahwa kita adalah profesi yang paling layak untuk dipilih dalam rangka pencegahan penyakit kronis (non communicable disease). Pilih Fisioterapi juga merupakan kesiapan fisioterapi yang selalu bekerja berbasis bukti untuk menjadi bagian dari team kesehatan kolaboratif.

Tahun ini tag line “Pilih Fisioterapi” kita perkuat dengan menambah “Gerak adalah Budaya /Exercise is Culture”. Kenapa frase ini kita pilih? Seperti dalam pembukaan tulisan ini, bahwa sesungguhnya profesi fisioterapi adalah profesi yang paling ideal disebut sebagai “Movement Expert“. Fisioterapilah - baik di dalam kurikulum maupun di dalam praxisnya mempelajari gerak sebagai fenomena paling esensial dalam kehidupan. Gerak yang dilihat oleh seorang fisioterapis berjenjang, dari gerak pada level yang paling kecil yaitu gerak biologi (molekuler) hingga gerak pada level individu dalam komunitas sosiologis. Gerak bagi fisioterapis tidak saja dilihat sebagai hasil dari dari keinginan akan tetapi juga dilihat dari fungsi gerak itu bagi kelestarian kehidupan.

Dalam beberapa tahun terahir kita banyak menemukan para peneliti fisioterapi dan peneliti ilmu kesehatan yang mengkaji gerak / exercise / latihan dengan berbagai variasinya dan pengaruhnya bagi kesehatan. Maka, kita bisa temukan berbagai forum baik di dalam negeri maupun dunia internasional dengan topik “exercise is medicine”. Minimal ada dua penemuan mendasar untuk membangun argumentasi ini :

Pertama, otot adalah organ indocrine yang apabila dia berkontraksi maka akan menghasilkan hormone yang disebut myokine dalam sebuah orchestra biokimia di dalam sel tubuh dengan membangun sebuah endocrine cellular communication . Setiap kontraksi otot akan merangsang munculnya zat anti inflamasi sebagai bagian dari tersekresinya interleukin. Dari fakta ini kita menyimpulkan bahwa exercise / gerak adalah anti peradangan. Kedua, riset membuktikan bahwa sel tubuh kita sangat peka (memiliki reseptor) terhadap rangsang mekanik (mechano receptor). Setiap rangsang mekanik seminimal apapun akan ditangkap oleh sel sebagai stimulant dan rangsang mekanik itu kemudian dirubah bentuk menjadi mechano transduction yang akan mempengaruhi gene expression. Melalui mekanisme inilah setiap gerak tubuh memiliki manfaat yang fundamental bagi kehidupan.

Alasan lain kenapa kita membuat frase “Gerak adalah Budaya” adalah sesungguhnya core dari seluruh modalitas yang digunakan oleh fisioterapi dalam menangani kondisi kesehatan apapun adalah exercise therapy. Peresepan, pelatihan dan pengawasan suatu exercise yang dilakukan oleh seorang fisioterapis menjadi sangat penting bagi kesembuhan pasien. Fisioterapi adalah ahli gerak. Exercise adalah nafas bagi Fisioterpis. Exercise bukan saja modalitas intervensi akan tetapi exercise juga adalah strategi assessment. Fisioterapi tanpa exercise maka akan mati! Maka mulai tahun ini mari kita canangkan budaya exercise kembali dalam dunia keseharian fisioterapis. Dalam frase “exercise is culture“ seorang fisioterapis tidak saja mengajak masyarkat untuk kembali bergerak, akan tetapi juga membawa budaya klinis kedalam praktik fisioterapi dengan menerapkan exercise dengan benar.

Exercise merupakan jawaban dari kerisauan akan kepunahan profesi fisioterapi ditengah berkembang pesatnya teknologi kesehatan dan bertumbuhnya berbagai profesi kesehatan yang saling berpacu. Exercise merupakan daya survive bagi fisioterapis. Exercise juga bagian dari identitas dan ciri dari profesi fisioterapi yang tak tergantikan.

Dengan dicanangkannya “Exercise is Culture / Latihan adalah Budaya” maka akan kita teguhkan kembali bahwa ‘gerak’ dan ‘latihan’ adalah inti dari pelayanan fisioterapi di tahun 2020 ini.

Gerak adalah bukti hidup, seluruh expresi spiritual manusia dalam memuji kebesaran Tuhan adalah melalui gerak. Demensi gerak pada anak anak itu diwujudkan dalam gerak dinamis permainan yang menimbulkan keceriaan, rasa percaya diri dan memahami sesama. Demensi gerak pada manusia dewasa adalah melalui olah tubuh, gerak tari baik yang menghentak atau yang lemah gemulai yang tidak saja merekatkan pergaulan akan tetapi juga expresi cinta dan keluhuran. Sesungguhnya gerak ibadah, gerak hidup dan gerak kematian hanyalah karena Tuhan  alam semesta. Gerak adalah sehat, gerak adalah sepiritual gerak adalah budaya.

Depok, 1 Januari 2020

M Ali Imron, SMPh, S.Sos, M.Fis
Ketua Umum Ikatan Fisioterapi Indonesia