Potensi Ledakan Disabilitas Nasional Pasca COVID-19

Rabu, 13 Mei 2020

Potensi Ledakan Disabilitas Nasional Pasca COVID-19

COVID-19 rupanya benar-benar mampu merubah dunia dan semua dimensi kehidupan manusia. Sebagai tenaga kesehatan, kita merasakan terjadinya...

COVID-19 rupanya benar-benar mampu merubah dunia dan semua dimensi kehidupan manusia. Sebagai tenaga kesehatan, kita merasakan terjadinya perubahan besar di berbagai fasilitas layan kesehatan. Hingga saat ini, hampir semua fasilitas pelayan kesehatan menunda layanan non-emergency, termasuk layanan fisioterapi.

Selama dua bulan ini, ada banyak perubahan yang memunculkan kekhawatiran yang mungkin belum terungkap.

Selama dua bulan ini pasien cereberal palsy dan anak-anak berkebutuhan khusus harus berhenti fisioterapi. Pasien paska stroke harus kehilangan waktu emas pemulihan dan berdiam dirumah dengan ketidakmampuannya. Pasien paska operasi orthopedi terancam kontraktur karena tak mendapat layanan fisioterapi. Lansia dengan OA knee kian mundur activity daily living. Dan sederet gangguan gerak dan fungsi yang tak terlayani di masa pandemi ini.

Bila deret fakta itu diitung dengan angka dan diakumulasikan, itu semua adalah prediksi angka disabilitas nasional di masa yang akan datang.

***

Meski dianggap tak berhubungan dengan keselamatan jiwa ( non-emergency ), gangguan gerak dan fungsi dapat menyisakan disabilitas yang akan menjadi beban berat negara dikemudian hari.

Disabilitas tak hanya berdampak pada tingkat individu. Disabilitas juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi.

Bayangkan bila yang terdampak tersebut adalah kepala keluarga yang harus menanggung ekonomi keluarga. Betapa besar dampak sosial yang terjadi.Satu orang dibandingkan seluruh penduduk Indonesia mungkin terlihat sangat kecil. Namun demikian, dalam perspektif keluarga, akan sangat berarti. Satu orang harus menanggung 4-5 orang anggota keluarga.

Melihat data terkait disabilitas menunjukkan sebanyak 21,84 juta atau sekitar 8,56 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. (Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2015). Itu dalam kondisi pelayanan fisioterapi normal sebelum pandemi COVID-19, apalah lagi setelah pelayanan tertunda karena COVID-19?

***

Fisioterapi sebagai profesi yang expert dalam hal gerak dan fungsi selayaknya segara mengambil “KONTRIBUSI” untuk aktif mencegah ledakan disabilitas di masyarakat. Siapkan seluruh potensi yang ada untuk “BERKONTRIBUSI” mencegah ledakan disabilitas.

AYO BERGERAK !!

Parmono Dwi Putro
Ketau SQUAD COVID-19
Wakil Ketua Umum PP IFI