SQUAD COVID-19 : Tak Lama Lagi, Fisioterapi Indonesia Akan Kembali Berkontribusi

Parmono - SQUAD COVID-19

AssalamualaikumWr Wb_
Apa kabar Bapak, Ibu, saudara-saudara fisioterapis Indonesia? Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi merahmati keluarga kita semua. Amiin yaa Rabbal ‘alamin.

Ini hanya secuil catatan di sela-sela pelayanan yang kunjungannya terjun bebas, sebagai bahan perenungan yang semoga bisa menjadi pemantik untuk kita segera berbuat lebih bermakna dalam menghadapi ujian COVID-19 ini.

Menurut pengamatan penerawangan mas Ali Imron ketum PP IFI dan tambahan dari beberapa pengurus pusat PP IFI -bisa jadi masih jauh dari cermat, dalam menghadapi COVID-19 ini kita telah melewati beberapa fase.

Fase 1: Fase kaget “anxious, fase dimana sejak diumumkan oleh presiden RI tanggal 2 maret 2020, disini siapapun dibuat terkejut bingung oleh situasi tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak hanya dunia medis, namun hampir seluruh sendi kehidupan baik sosial,ekonomi,politik bahkan hankam, termasuk fisioterapi. Kita benar-benar dibuat kaget oleh virus yang memang belum pernah ada yang oleh sebagian orang semula dianggap tidak bahaya. Dari situasi ini memunculkan “fear” kekhawatiran ketakutan yang menyebar keseluruh masyarakat.

Kita dibuat bingung informasi begitu berseliweran  tanpa kita bisa memilah mana informasi yang valid mana yang HOAX. Pemerintah yang sangat diharapkan mampu memberikan informasi yang benar benar validpun terlihat gagap dalam fase ini. Di Fase ini PP IFI membuat Langkah membentuk SAUAD COVID-19

Fase 2 “Panic”. Fase ini ditandai meluncurnya informasi jumlah korban meninggal yang terus bertambah di media sementara yang sembuh angkanya masih kecil, hampir seluruh lapisan masyarakat merespon dengan kepanikan, dari yang seolah terlihat rasional sampai yang tidak rasional bahkan sampai ada yang melakukan penolakan terhadap jenazah syuhada pejuang COVID-19, mulai ada yang memborong bahan makanan pokok atau masker, hingga semua lini berupaya melakukan 'lockdow' dan 'PSBB' membatasi diri dan mencoba mencari solusi sendiri-sendiri. Beberapa sejawat fisioterapi yang menghentikan pelayanan.

Pada fase ini SQUAD COVID-19 melakukan proses pembelajaran dengan program “Marathon Course”nya dengan menampilkan expertis di bidangnya baik dari nasional maupun internasional

Fase 3 "fase Memahami". Di fase ini kita mulai dapat mengendalikan diri walaupun masih dalam kondisi “panic” yang seharusnya fase ini kita juga sudah mulai memahami apa dan bagaimana COVID-19 ini, sehingga kita dapat menghadapinya dengan ilmu yang lengkap. Sudah seharusnya kita siap berhadapan dengan virus ini.

Sebagai bahan renungan :
1. Kurang lebih 3 bulan ini kondisi pelayanan fisioterapi terjun bebas yang membuat “nyaris lumpuh” seluruh sel-sel operasional yang ada di pelayanan ini.

2. Kurang lebih 3 bulan ini adalah waktu yang sudah cukup untuk membuat habit, kebiasaan, pola. Jangan-jangan kita menjadi terpola dengan santai, tidak ada pasien, membuat kita terlena. Situasi ini mematikan rasa kompetitif kita untuk memajukan profesi fisioterapi tercinta atau justru akan memunculkan ide-ide baru dalam bergerak memberikan kemanfaatan kepada masyarakat sesuai amanah para “founding father” kita dahulu?

4. Kurang lebih 3 bulan ini masyarakat dibatasi pergerakannya, bisa jadi akan muncul sebuah anggapan jika kondisi sakit tidak ke RS tidak apa apa toh 3 bulan ini saya di rumah saja, dan kondisi baik-baik saja.  Tidak ke fisioterapi tidak apa-apa toh juga kondisi saya baik baik saja. Atau masyarakat akan mencari alternatif-alternatif lain untuk berobat.

Saudara saudara sejawat fisioterapis Indonesia, akankah kita tetap berdiam diri dan merasa nyaman di fase ini? ataukah kita akan berupaya menjadi bagian dari solusi dari seluruh permasalahan ini dan bergeser bergerak untuk menuju fase ke 4?

Sudah saatnya kita segerakan munculnya fase ke 4 dan tidak menunggu lagi.

Fase4: Fase kontribusi, fase dimana kita memang benar-benar siap menghadapi COVID-19 lengkap dari seluruh sisi, baik SDM maupun sarana prasarana pendukungnya. Seluruh SDM sudah siap berjuang di garda paling depan 'hands-on' langsung kepada pasien COVID-19 dengan seluruh ilmu fisik dan mentalnya.

Fase kontribusi adalah tahapan dimana seluruh sel komponen dari satu tubuh fisioterapi Indonesia  ini kembali bergerak sesuai fungsi masing-masing dengan inovasi ide-ide barunya yang cemerlang.
Fase dimana seluruh sel, komponen telah mampu berkomunikasi dengan baik sehingga menghasilkan sebuah sinergi kekuatan, 1+1 ≠ 2 akan tetapi 1+ 1 = 25 atau 27 itulah makna sinergi yang sesungguhnya .

Semoga kita semua mampu segera bangkit dari keterpurukan ini. Hanya kepada Allah SWT kita berharap.

Wassalamu’alaikum wr wb


RSIJPK, Senin, 18 Ramadhan 1441 H

Parmono Dwi Putro
Ketua SQUAD COVID-19
Wakil Ketua Umum IFI


Posting Komentar

0 Komentar