Hotel Bersejarah di Yogyakarta, Lokasi Kongres Nasional XIII Ikatan Fisioterapi Indonesia Tahun 2021

Konggrès Nasional ke 13 Ikatan Fisioterapi Indonesia tahun 2021 akan diselenggarakan di Yogyakarta

Minggu, 07 Februari 2021

Hotel Bersejarah di Yogyakarta, Lokasi Kongres Nasional XIII Ikatan Fisioterapi Indonesia Tahun 2021

Konggrès Nasional XIII Ikatan Fisioterapi Indonesia tahun 2021 akan diselenggarakan di Yogyakarta, tepatnya di sebuah HOTEL yang berada di p...

Konggrès Nasional XIII Ikatan Fisioterapi Indonesia tahun 2021 akan diselenggarakan di Yogyakarta, tepatnya di sebuah HOTEL yang berada di pojok utara Jalan Malioboro Yogyakarta, bernama Hotel Grand Inna Malioboro.

Hotel ini memiliki sejarah panjang. Banyak peristiwa bersejarah terjadi di hotel ini.

Pada tahun 1946 hotel ini pernah menjadi kantor kabinet, ketika Presiden Sukarno memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah berkantor di sini selama dua bulan.

Menyelenggarakan Kongres di Hotel Grand Ina, tak ubahnya melarutkan diri dalam suasana sejarah masa lalu dan mencecap semangat perjuangan para pendiri républik ini.

Hotel grand Ina berada di pusat kota Yogyakarta. Posisinya kurang lebih ada di tengah-tengah antara Tugu dan Keraton Yogyakarta.


Catatan sejarah di dinding menyebut, hotel ini dibangun tahun 1908. Tiga tahun baru selesai, dan dioperasikan tahun 1911 oleh pengusaha Belanda, tentunya. “Nama lahir” hotel ini adalah “Grand Hotel The Jogja”. Tahun 1938, dilakukan penambahan sayap bangunan utara dan selatan.

Datang Jepang, Belanda hengkang. Hotel ini pun dikuasai Jepang dan diganti nama menjadi Hotel Asahi. Seumur jagung saja, karena pada tahun 1945, Indonesia merdeka dan menghapus nama Asahi dan mengganti dengan nama Hotel Merdeka. Sebuah euforia kemerdekaan pada zamannya.

Sempat sebentar menjadi kantor kabinet, hingga kemudian difungsikan kembali sebagai hotel. Tahun 1950, pemerintah mengganti nama hotel Merdeka menjadi Hotel Garuda. Baru di Orde Baru, tepatnya 1975, hotel ini diubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara dan berganti nama menjadi Natour Garuda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, terpatri dalam sebuah prasasti tahun 1984. Itulah momentum yang menandai pengembangan Natour Garuda menjadi 120 kamar dengan meninggikan bangunan tengah menjadi tujuh lantai.

Pada tahun 1991, dilakukan renovasi dan pengembangan kembali menjadi 240 kamar, dan diresmikan Sri Paduka Paku Alam VIII, pada 29 Juni 1991.

Yang menarik, terdapat 2 kamar istimewa di sini: kamar 911 dan 912. Ini terkait sejarah MBO (Markas Besar Oemoem) Tentara Keamanan Rakyat pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Natour Garuda ketika itu.

Mari ke Yogyakarta, kita bicarakan masa depan fisioterapi Indonesia sebagaimana para pendahulu kita membicarakan masa depan republik Indonesia.